Cerita Alfatih Soal Transformasi Dakwah di Medsos

VISIBANGSA.COM | Bogor – Untuk menyebarkan pesan-pesan dakwah Islam, media sosial kini menjadi alat yang sangat efektif, hal itu disampaikan seorang praktisi pengguna teknologi digital, Muhammad Alfatih Sitanggang, Sabtu (27/04) di kawasan Pondok Pesantren Hilal Kota Bogor.

Dakwah Islam sebagai bagian integral dari ajaran agama Islam, menurut Alfatih telah mengalami transformasi yang signifikan di era digital, khususnya dengan adanya perkembangan media sosial.

“Dengan munculnya platform-platform digital seperti Facebook, Instagram, Twitter, dan YouTube, para da’i dan aktivis Islam telah mulai memanfaatkan teknologi ini sebagai sarana untuk menyebarkan pesan-pesan dakwahnya,” ungkap Alfatih.

Disebutkan Alfatih para dai dan aktivis dakwah kini banyak menggunakan platform media sosial untuk menyebarkan informasi agama, ceramah, kajian, dan motivasi keagamaan kepada jutaan pengguna di seluruh dunia.

“Kita bisa lihat setiap saat selalu ada video ceramah di YouTube, kutipan ayat Al-Quran di Instagram, diskusi keagamaan di Twitter, dan siaran langsung ceramah di Facebook,” jelas pria muda yang juga staf IT Pesantren yang diasuh ustadz kondang KH. Ansufri Id Sambo itu.

Inilah bagian dari aktivitas dakwah yang kini aktif dilakukan oleh berbagai tokoh dan lembaga keagamaan. “Sayangnya, saya tidak memiliki akses langsung ke data real-time, termasuk data jumlah ustadz dan dai yang aktif menggunakan platform media sosial sebagai alat dakwah,” ujarnya.

Begitupun, Alfatih menegaskan dirinya dapat memberikan perkiraan umum berdasarkan tren yang teramati dan informasi yang tersedia hingga saat ini.

Berdasarkan perkembangan teknologi dan tren penggunaan media sosial dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak ustadz dan dai yang aktif menggunakan platform-platform media sosial untuk menyebarkan pesan dakwah.

“Banyak di antara mereka yang memiliki kanal YouTube resmi, akun Instagram, atau halaman Facebook yang mereka gunakan untuk membagikan ceramah, kajian agama, nasihat keagamaan, dan konten-konten edukatif lainnya,” paparnya.

Di Indonesia, terdapat ribuan ustadz dan dai yang aktif menggunakan media sosial sebagai alat dakwah. Beberapa di antaranya memiliki jangkauan yang sangat luas dengan jutaan pengikut di berbagai platform. Namun, jumlah pastinya bisa bervariasi dan terus berkembang seiring dengan pertumbuhan penggunaan media sosial di kalangan masyarakat.

Sementara itu, lembaga-lembaga keagamaan dan organisasi dakwah juga memiliki peran penting dalam menggalang para ustadz dan dai untuk menggunakan media sosial sebagai sarana dakwah. Mereka sering kali menyediakan pelatihan dan dukungan teknis bagi para ustadz dan dai agar mereka dapat mengoptimalkan penggunaan media sosial dalam menyebarkan pesan agama dengan baik dan bertanggung jawab.

“Data pasti tentang jumlah ustadz dan dai yang menggunakan media sosial sebagai alat dakwah tidak tersedia secara langsung, namun dapat dipastikan bahwa penggunaan media sosial dalam dakwah Islam telah menjadi fenomena yang signifikan dan terus berkembang di era digital ini,” terang Alfatih yang kini diamanahkan untuk fokus bekerja di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogya, Program Studi Informatika – Pendidikan Jarak Jauh – PBJJ Pesantren Hilal Bogor.

Meskipun memiliki potensi besar, dakwah di media sosial juga dihadapkan pada berbagai tantangan. Semisal masalah konten yang tidak sesuai dengan ajaran Islam atau bahkan menyesatkan. “Berita palsu, informasi yang tidak akurat, dan pandangan radikal dapat dengan mudah menyebar melalui media sosial, ini mengancam kebenaran dan integritas ajaran Islam,” tegas Alfatih.

Oleh karena itu, dirinya meminta para tokoh agama dan aktivis dakwah perlu waspada dan proaktif dalam menghadapi tantangan ini dengan menyebarkan konten yang benar, berkualitas, dan mendidik.

Seiring dengan perkembangan media sosial, terjadi juga inovasi dalam metode dakwah digital. Selain konten-konten yang informatif dan inspiratif, banyak tokoh agama yang mulai menggunakan fitur-fitur interaktif seperti polling, kuis, dan tanya jawab untuk meningkatkan keterlibatan pengguna dan memperluas jangkauan dakwah mereka.

Ini menjadi bukti bahwa dakwah Islam terus berkembang dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang ada. Lebih jauh Alfatih mengatakan pemerintah dan masyarakat juga memiliki peran penting dalam mendukung dakwah Islam di media sosial.

Pemerintah perlu memberikan regulasi yang tepat untuk mengontrol konten yang melanggar hukum atau norma-norma agama. Di sisi lain, masyarakat perlu meningkatkan kesadaran akan kebenaran dan akurasi informasi, serta aktif dalam menyebarkan pesan-pesan positif yang bersifat edukatif dan inspiratif.

Dakwah Islam di era digital menawarkan peluang besar untuk menyebarkan ajaran agama kepada khalayak yang lebih luas. Namun, tantangan dalam bentuk konten yang tidak sesuai dan pandangan radikal juga perlu diatasi dengan bijak.

“Dengan kolaborasi antara para tokoh agama, pemerintah, dan masyarakat, dakwah Islam di media sosial dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang positif bagi umat Islam dan masyarakat luas,” pungkas Alfatih kepada kru redaksi visibangsa.com | VS-001

Facebook Comments Box