Wawancara Khusus SATU ABAD NU visibangsa.com bersama Ketua Umum PP Parmusi, Dr. Ali Amran Tanjung, SH., MH.
INTERVIEW – visibangsa.com – Jakarta – Sejarah bangsa Indonesia, menurut Dr. Ali Amran Tanjung, bukan hanya ditulis oleh negara dan kekuasaan, tetapi juga oleh ulama dan moralitas. Momentum satu abad Nahdlatul Ulama (NU) ia sebut sebagai tonggak emas perjalanan Indonesia, yang lahir dari rahim keulamaan dan keberanian spiritual para pendiri bangsa.
“Hari ini kita tidak sedang merayakan organisasi semata. Kita bersyukur atas hadirnya Nahdlatul Ulama yang selama 100 tahun telah menjadi penjaga moral, stabilitas, dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujar Ketua Umum PP Parmusi itu kepada visibangsa.com.
Ali Amran menegaskan, kelahiran NU pada 16 Rajab 1344 H di bawah kepemimpinan Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari adalah peristiwa peradaban. Para pendiri NU, menurutnya, berhasil “menjahit keislaman dan keindonesiaan tanpa celah,” sehingga tidak ada dikotomi antara iman dan cinta tanah air.
“Prinsip Hubbul Wathon Minal Iman bukan slogan. Itu fondasi teologis kokoh bagi NKRI,” tegasnya.
Dalam lintasan sejarah, Parmusi memandang NU selalu hadir ketika bangsa berada di titik genting. Dari Resolusi Jihad yang membakar semangat perlawanan 10 November, hingga peran NU sebagai penyeimbang dalam dialektika politik nasional.
“NU itu peredam konflik, pemersatu keberagaman. Karakter wasathiyah NU adalah harta karun intelektual yang membuat Indonesia tetap utuh di tengah badai polarisasi global,” kata Ali Amran.
Namun, ia mengingatkan, tantangan abad kedua NU jauh lebih kompleks. Kedaulatan hari ini tidak hanya soal teritorial, tetapi juga kedaulatan digital, ekonomi, dan pemikiran. Di sinilah, menurutnya, NU dan Parmusi harus hadir dalam satu irama.
“Masa depan Indonesia hanya bisa dicapai jika ormas-ormas Islam bersinergi dalam apa yang saya sebut sebagai orkestrasi keadaban,” ujarnya.
Parmusi melihat 100 tahun NU sebagai momentum lompatan kuantum. Bukan lagi sekadar bertahan, tetapi memimpin peradaban.
“Indonesia butuh SDM berintegritas: kuat ilmu agama, sekaligus menguasai teknologi. NU, dengan jaringan pesantren yang masif, adalah infrastruktur kemanusiaan paling siap untuk mencetak ‘Santri Global’ yang berdaya saing internasional tanpa kehilangan jati diri,” jelasnya.
Lebih jauh, Ali Amran berharap NU di abad keduanya konsisten mengawal nilai-nilai Pancasila dan Pasal 33 UUD 1945. Isu kemandirian ekonomi umat, menurutnya, tak bisa ditawar.
“Kekayaan alam Indonesia harus kembali ke tangan rakyat, bukan dikuasai segelintir oligarki. Keadilan sosial adalah ruh Islam, dan NU adalah otot terkuat untuk menarik gerbong keadilan itu,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa Parmusi dan NU adalah saudara seperjuangan dalam sejarah dakwah Indonesia. Meski berbeda pendekatan taktis, orientasi strategis keduanya sama: Izzul Islam dan keutuhan Indonesia.
“Sinergi intelektual muslim dan ulama pesantren adalah kunci menghadapi ancaman transnasional yang ingin mengikis nilai-nilai ketimuran kita,” ujarnya.
Menutup perbincangan, Ali Amran Tanjung menyampaikan ucapan selamat satu abad untuk NU dengan penuh harap. “Semoga di abad kedua ini, Nahdlatul Ulama semakin kuat sebagai pilar peradaban Indonesia,” pungkasnya. | editor



