REFORESTASI GAGAL RAKYAT BAYAR MAHAL : Energi Terbarukan Ada di Hutan, Tapi Negara Terus Pilih Impor BBM

Must Read

Opini Ekonomi Lingkungan | visibangsa – Banjir, longsor, krisis energi, dan ketergantungan impor BBM bukanlah rangkaian peristiwa terpisah. Semua itu adalah akumulasi kegagalan negara membaca pesan hutan. Reforestasi yang dikerjakan seremonial, kebijakan energi yang berpijak pada fosil, serta abainya negara terhadap riset kehutanan telah menciptakan satu kondisi: bangkrut ekologis yang berulang setiap tahun. Padahal, Indonesia justru hidup di atas potensi solusi.

Dalam podcast Suara Dari Rimba terbaru, Prof. Dr. Budi Leksono, Peneliti BRIN, menyampaikan peringatan yang tak bisa dianggap angin lalu.

“Kita ini negara tropis di garis khatulistiwa, diberi biodiversitas yang tidak dimiliki negara subtropik. Kalau potensi itu tidak kita manfaatkan secara optimal, kita termasuk golongan orang yang merugi,” ujarnya. Pernyataan ini bukan retorika moral, melainkan kritik telanjang terhadap arah pembangunan nasional.

Menurut Prof. Budi, bencana ekologis sejatinya adalah sentilan dari alam akibat kesalahan tata kelola. Ia menegaskan bahwa solusi sebenarnya sudah ada di depan mata, tetapi tidak dikerjakan secara konsisten. Selama lebih dari 30 tahun, ia menekuni riset kehutanan secara fokus—bukan berpindah-pindah komoditas demi proyek jangka pendek.

Dari keberhasilan ekaliptus dan akasia yang membuat Indonesia lepas dari impor benih Australia, hingga 17 tahun riset nyamplung dan malapari sebagai sumber Bahan Bakar Nabati (BBN). “Kalau riset ganti jenis tiap tahun, tidak akan pernah tuntas,” tegasnya.

Di sinilah ironi besar terjadi. Reforestasi yang semestinya menjadi tameng bencana justru kehilangan nilai strategis karena tidak dikaitkan dengan ekonomi hijau dan ketahanan energi. Padahal nyamplung bukan sekadar pohon. Ia menyerap karbon, memulihkan lahan kritis, menopang ketahanan pangan, sekaligus menghasilkan energi terbarukan. Prof. Budi bahkan menyebut, energi berbasis hutan ini sudah diminati Jepang, sementara di Indonesia masih terjebak di level wacana dan minim dukungan kebijakan.

Jika kondisi ini dibiarkan, reforestasi berisiko berubah menjadi lahan jajahan baru: hutan ditanam di Indonesia, tetapi kendali teknologi, pasar, dan nilai tambah dikuasai asing. Negara kembali terlambat, seperti pola lama sektor sumber daya alam. Karena itu, pesan Prof. Budi sangat jelas: Indonesia harus berhenti puas menjadi net oil importer, dan mulai menargetkan diri sebagai eksportir BBN.

Reforestasi bukan proyek tanam pohon, melainkan agenda penyelamatan bangsa. Ia mencegah bencana, menciptakan energi bersih, membuka ekonomi desa, dan mengembalikan kedaulatan. Mengabaikan riset BRIN dan peringatan para ilmuwan sama artinya dengan memilih jalan paling mahal: bencana berulang, energi impor, dan masa depan yang dicaplok asing. | Penulis Host JUST TALKS Jurnal Politik TV

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

TATA KELOLA JKN PAYAH..! Duit APBN Tersedia, 11 Juta Peserta PBI Di-Non Aktif Tanpa Jeda

Opini Ahli Hukum | visibangsa - Di ruang rapat DPR, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tidak sedang marah. Dia...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img