MS Kaban : Parahnya Bencana Sumut Akibat Kelalaian Kolektif

Must Read

NEWS & TALKS | Suara Dari Rimba – VISIBANGSA.COM – Langit Jababeka tampak cerah, tetapi nada yang keluar dari bibir M. Kaban justru penuh mendung. Di tengah aksi penanaman pohon memperingati Hari Menanam Pohon Indonesia, Jumat (28/11) mantan Menteri Kehutanan itu menyampaikan kegelisahan yang tak bisa lagi ditahan: hutan Indonesia kian rapuh, dan bencana hanya menjadi alarm yang terus diabaikan.

Kaban berdiri di antara rimbawan senior yang menancapkan bibit-bibit kecil ke tanah industri yang panas. Namun pikirannya tertuju ratusan kilometer ke utara—ke Sumatera Utara yang sedang berduka akibat banjir bandang dan longsor. “Kita sangat prihatin terhadap peristiwa banjir bandang yang ditengarai akibat penebangan pohon yang tidak terkendali,” ujarnya, tegas dan tanpa tedeng aling-aling.

Baginya, tragedi yang merenggut nyawa dan merusak rumah, jalan, hingga fasilitas umum itu bukan sekadar siklus alam. Itu adalah bukti telanjang bahwa kerusakan hutan sudah melewati ambang batas yang dapat ditoleransi. Curah hujan tinggi hanyalah pemantik; akar persoalannya jauh lebih dalam—lahan gundul, perambahan, dan praktik pembiaran yang berlangsung bertahun-tahun.

“Hutan itu akan pulih jika kita melakukan intervensi dengan gerakan penanaman,” kata Kaban. Namun kalimat berikutnya menghantam lebih keras: “Kerusakan harus dijawab dengan perbaikan.” Tidak dengan wacana, bukan dengan rapat darurat setelah bencana, tetapi dengan kerja jangka panjang yang dimulai sebelum bencana menghantam.

Lalu ia mengarahkan sorotan pada ironi yang paling sering terjadi di republik ini. “Ketika terjadi bencana semua orang ingin terlibat mengatasi bencana. Tetapi ketika ada orang melakukan pengrusakan kawasan hutan, tidak semua orang mau mengatasinya.”

Ucapannya seperti mencubit semua pihak—pemerintah, pengusaha, masyarakat—yang kerap berebut tampil setelah banjir terjadi, namun memilih diam ketika penebangan liar berlangsung.

Baca juga HMPI 2025 : RIMBAWAN SENIOR HIJAUKAN JABABEKA

Di bawah terik Jababeka, pesan Kaban terasa seperti alarm yang mengguncang kesadaran: kita sibuk memadamkan api, tetapi membiarkan bara tetap menyala di hulu. Penanaman pohon hari itu bukan sekadar seremoni; itu adalah ajakan perang terhadap kelalaian kolektif yang membuat bencana terus berulang.

Dan jika peringatan ini kembali diabaikan, maka tanah, air, dan nyawa akan menagih harganya lagi—lebih besar, lebih sering, lebih menyakitkan. | red

- Advertisement -spot_img

3 KOMENTAR

  1. So, I stumbled upon zc888game the other day, and I was pleasantly surprised. It’s got a good vibe, and I didn’t find it confusing at all. If you’re looking to try something different, give it a shot! You can find it at zc888game.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img
Latest News

REFORESTASI GAGAL RAKYAT BAYAR MAHAL : Energi Terbarukan Ada di Hutan, Tapi Negara Terus Pilih Impor BBM

Opini Ekonomi Lingkungan | visibangsa - Banjir, longsor, krisis energi, dan ketergantungan impor BBM bukanlah rangkaian peristiwa terpisah. Semua...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img