Sabtu, Agustus 30, 2025

Membaca Natsir : “Palestina Masalah Kita”

Must Read

“Pak, cemana menurut Bapak Mohammad Natsir melihat persoalan Palestina ?” tanya anak laki-lakiku tiba-tiba.
“Palestina? Memangnya apa yang kau ketahui tentang Natsir dan Palestina, Ray?” tanyaku balik.
“Ya, kalok menurut Rayhan beliau serius. Setidaknya ada buku karya M. Natsir yang terbit tahun ’70-an membahas Palestina, Pak!,” jawab anakku.
Aku berusaha tersenyum.
“Ray, 30 tahun sebelum buku itu terbit, sebenarnya Pak Natsir sudah menulis serius soal Palestina!” terangku.
“Oh ya? Cemana ceritanya, Pak?” tanya anakku.
“Nah, kebetulan Bapak persiapkan satu cerita soal itu. Kau baca cepat, nanti kita diskusikan. Lewat WA-mu, ya Ray!” jawabku.


Akhir Juli 2025, jagad politik dunia disuguhkan berita dan peristiwa menarik, “Perdana Menteri Inggris Keir Starmer bersiap mengakui negara Palestina paling cepat pada bulan September.”
Seperti petir di siang bolong, Tel Aviv bereaksi keras. Tak tanggung-tanggung PM Israel meradang. Memang, pengumuman perdana menteri Inggris itu menandai perubahan signifikan dalam posisi Inggris yang telah lama berlaku, yaitu mengakui Palestina sebagai bagian dari proses perdamaian pada titik dampak maksimum.
Entah mengapa, tiba-tiba setelah membaca berita itu, aku pun teringat dengan sebuah tulisan lawas Mohammad Natsir, tahun 1941 tepatnya, yang dimuat pada Pandji Islam bulan September. Di bawah titel DJUBLIUM BALFOUR – MAC MAHON, Natsir menulis:

“Ada satu pidato yang tidak kurang pentingnya, serta mengejutkan kaum Muslimin umumnya, dan Muslimin Arab khususnya. Pada tanggal 2 Nopember yang lalu, demikianlah kata Reuter dari Johannesburg (Afrika Selatan), Marschalk Smuts telah memperingati cukup 24 tahun umurnya Balfour Declaration“, yakni perjanjian Staatssecretaris Luar Negeri Inggeris, Arthur J. Balfour dalam suratnya tanggal 2 Nopember 1917 kepada Lord Rothschild di London. Dalam surat tersebut Balfour menjanjikan atas nama Pemerintah Inggeris kepada Rothschild sebagai wakil pergerakan Zionist, bahwa Pemerintah Inggeris berjanji akan berusaha supaya di Palestina didirikan satu Negara, satu ‘national home’ untuk bangsa Yahudi,”

Terasa biasa, saja. Tak ada yang aneh kecuali janji satu ‘national home’ untuk bangsa Yahudi. Tapi, bukan M. Natsir bila tak menemukan celah masalah dalam janji itu. Tulisan Natsur yang hanya satu²-nya pada buku Capita Selecta yang membahas politik luar negeri di Timur Tengah, soal Palestina khususnya, menjadi penanda pikiran dan sikap M. Natsir berikutnya terkait masalah Palestina.
Natsir mengingatkan tentang janji Inggris sebelumnya, yakni janji yang disepakati pada perjanjian antara Komisaris Tinggi Inggeris di Mesir, Mac Mahon dengan Syarif Husein, saat Negara-negara Sekutu dalam keadaan susah dalam menggapai perang dunia waktu itu. Natsir menulis:

“Tatkala Turki dikuatiri akan memihak kepada Jerman dan akan mengumumkan Jihad atas nama seluruh Dunia Islam, Lord Kitchener, yang telah lama mempunyai hubungan dengan putera Syarif Husein dan telah pernah berunding tentang mungkinnya Syarif Husein diberi lepas tangan mengatur ‘orde’ sendiri di tanah Hejaz, asal tingkah lakunya tidak bertentangan dengan kepentingan-kepentingan Inggeris, tatkala itu Lord Kitchener bertanya kepada Syarif Husein, bagaimanakah sikap beliau bila Turki mengumumkan jihad kepada Inggeris? Syahdan satu hari sebelumnya tersiar proklamasi jihad itu, sudah terletaklah surat jawaban dari Syarif Husein di atas meja Lord Kitchener, yang menerangkan bahwa Syarif berdiri netral saja adanya…! Kenetralan ini sudah berarti satu pertolongan besar bagi pihak Negara Sekutu, akan tetapi belum cukup. Storr, salah seorang agen dari Inggeris dikirimkan kepada Syarif Husein untuk mengadakan rembukan, supaya seboleh-bolehnya Syarif ini jangan tinggal netral saja, akan tetapi turut berjuang melawan Turki.”

Hmm… dan seperti diketahui bahwa akhirnya Syarif Husein tidak netral. Dalam bulan Oktober 1916, Lawrence yang terkenal itu berangkat ke Tanah Arab, untuk menyusun kekuatan bangsa Arab guna mematahkan kekuatan Turki, di bawah pimpinan Feisal. Ujung-ujungnya, tulis Natsir:

“Berkat pertolongan ini sayap kiri tentara Turki terancam sangat dan Lord Allenby mendapat nafas melawan balatentara Palestina-Turki, sehingga front Turki sebelah selatan runtuh sama sekali. Akhirnya dalam bulan September 1918 Feisal masuklah bersanding bahu dengan balatentara Inggeris ke kota Damaskus yang baru mereka taklukkan. Dengan ini lunaslah kewajiban bangsa Arab kepada pihak Negara Sekutu, sebagaimana yang termaktub dalam perjanjian Mac Mahon tersebut. Tinggal lagi kewajiban pihak yang sebelah untuk menepati janji. Katanya, menunggu perang selesai. Sesudah perang tentu semua bisa dibereskan. Tunggu! Sesudah perang!”

Dan catatan perjalanan sejarah politik di Timur Tengah itu membuktikan sifat asli Yahudi yang sejatinya ada pada Negara Sekutu. Janji tetap janji. Perang terus berlanjut. Terbit janji baru yang lebih keren, “Sykes – Picot”!
Apa poin penting perjanjian ini? Ada pada poin 2, dimana ditetapkan, bahwa:

  1. Inggeris memegang Mesopotamia Selatan dan Baghdad, serta pelabuhan Haifa dan Jafa.
  2. Rusia mendapat Asia Kecil sebelah Timur sampai Traze-punt.
  3. Asia Kecil yang selebihnya dan pantai Siria untuk Perancis.
    Tiga ketetapan dalam isi nomor 2 perjanjian Sykes – Picot itu nyata² telah menorpedo isi perjanjian Syarif Husein – Mac Mahon!
    Perang belum usai. Dus, terbit perjanjian ketiga, BALFOUR. Isinya, dalam bahasa Natsir:”…maka perjanjian Balfour inilah yang dimasukkan dan ditegaskan di dalamnya. Sykes – Picot tak terdengar, Mac Mahon jangan disebut lagi…!”

Ini janji Inggeris!
Walhasil, percis seperti perkataan Smuts bahwa, “Perjanjian Balfour tidak mati. Dia masih berdiri atas dasar yang kokoh, dan bangunan yang akan timbul daripadanya, jauh akan lebih besar dan hebat daripada perjanjian itu sendiri.” Bangunan itu, national home untuk bangsa Yahudi yang berdiri di Palestina.

**

Didesak penasaran yang dalam, kubaca lagi tulisan Moh. Natsir yang dibukukan 30 tahun setelah tulisannya pada Pandji Islam itu, “Masalah Palestina” (Hudaya Jakarta, 1971).
Bagian utama dari tulisan Natsir pada buku yang hanya 80 halaman itu, ada pada bagian IV dan V. Natsir menulis:

“Maka oleh karena itulah kita harus melihat, bahwa soal Palestina itu bukanlah soal lokal, bukanlah soal orang Arab, bukanlah semata-mata soal teritorial, tapi adalah soal Islam dan ummat Islam seluruhnya.”

Ya, Palestina memang masalah kita. Palestina adalah soal Islam dan soal ummatnya!
Dan menurut Natsir, soal Palestina sejatinya adalah soal yang sederhana bagi siapa pun yang mau menggunakan akal dan hatinya. Natsir menulis secara ringkas resume soal Palestina ini.

“Soal Palestina itu tidak lagi menjadi pembicaraan yang berpanjang-panjang atau berlarut-larut. Sebab soal Palestina sesudah dilihat dari segala macam sudut, dari depan, dari belakang, dari kiri kanan, dari atas dan bawah, semuanya sudah diteliti dengan saksama. Semuanya sudah dikupas dan dibahas, sehingga tidak ada lagi yang akan dibicarakan. Sekarang, soalnya sangat sederhana sekali. Ada satu bangsa yang diusir oleh bangsa lain. Bukankah itu sangat sederhana Mereka diusir dari rumah tangganya sendiri, kemudian dijajah. Sesudah dijajah, rumahnya diduduki, atau rumahnya dibongkar. Soalnya sama saja seperti sewaktu kita tinggal di rumah kita sendiri, pada suatu tengah malam datang orang dengan bedil di tangannya, lalu kita díusirnya…. dan menduduki rumah kita itu. Jadi, sangat simple. Tidak usah memakai analisa-analisa yang panjang-panjang, menyangkut-pautkan dengan “hak asası” segala. Tidak perlu ..!. Negara ini diduduki oleh manusia² yang sama manusianya, sesama cucu Adam. Ia tinggal disana dan menempatinya. Lantas ada orang yang mau duduk disitu, dengan mengusir orang yang ada, si empunya rumah. Memang demikianlah caranya.”


Aku makin penasaran. Kebetulan, kuingat betul, dulu, ya dulu saat aku masih SD, aku pernah baca satu buku bersampul warna biru muda dan biru tua milik Abangku. Judulnya pun keren, DI KAKI LANGIT GURUN SINAI terbitan ALMA’ARIF yang merupakan terjemahan dari Road to Ramadhan karya Hasanein Heikal (terjemahan oleh Mahbub Djunaidi, 1979). Dan kubaca ulang. Aku pun merasa bahwa apa yang ditulis oleh Natsir terkonfirmasi. Buku yang merupakan reportase selama selama perang tahun 1973 serta beberapa tahun sebelumnya itu, menunjukkan dua hal penting yakni peran penting Henry Kissinger sebagai arsitek gencatan senjata, dan mentalitas negara-negara Arab yang KALAH PERANG. Maka menjadi benar bahwa soal Palestina adalah soal Islam dan Ummatnya, bukan semata Arab. Sekali lagi bukan!

Penasaranku belum berakhir. Kutemukan pula di tumpukan buku-buku lemari tuaku sebuah buku berwarna coklat bertitel PALESTINA: BEGINILAH IA HILANG, BEGINILAH IA KEMBALI, yang juga diterbitkan oleh ALMA’ARIF tahun 1980 karya NICOLA DURR dan disadur oleh Muhammad Tohir. Kulahap, kunikmati dan kucatat yang perlu. Tetap, aku bersandar pada Natsir sebagai frame analisis bacaanku.

Dus, lewat karya Durr ini, apa yang tersaji dan tersembunyi dari BALFOUR nyata tergambar! Bagaimana Inggeris memainkan seni politik “tinggi”–meminjam istilah Natsir, di Timur Tengah dan membagi-bagi kepentingan dan sumberdaya di kawasan itu, tampak nyata. Sekali lagi, terima kasih atas landasan yang kau bangun Abah Natsir.

“Jadi cemana ini, Pak?” tiba-tiba anakku bertanya setelah hampir 18 menit ia terdiam.
Cemana apanya, Ray?” tanyaku balik.
“Itu soal janji PM Inggris yang katanya Inggris akan akui kemerdekaan Palestina itu?”
“Menurutmu, cemana?” tanyaku balik
Rayhan tampak mengaruk-garuk kepalanya |


Jujur, ketiga buku ini: Masalah Palestina karya M. Natsir; Di Kaki Langit Gurun Sinai karya Hasanein Heikal; dan Palestina: Beginilah Ia Hilang, Beginilah Ia Kembali, aku rekomendasikan untuk dibaca kembali. Beberapa kali.


Toean² dan Poean² yang berminat Repro dari buku² ini, kecuali buku karya Natsir karena aku sudah dilarang, bisa memesan.

Karya Hasanein Heikal,
Tebal 360 halaman,
HC = 150.000 + ongkir
SC = 125.000 + ongkir

Karya Nicola Durr
Tebal 531 halaman
HC = 180.000 + ongkir
SC = 160.000 + ongkir

Berminat? Pesan, hubungi 081290181133

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

TEWASNYA “AFAN” SEORANG DEMONSTRAN : Bukti Kekerasan Dominasi Demokrasi

OPINI SOSIAL POLITIK | VISIBANGSA.COM - Kasus tewasnya Afan Kurniawan dalam aksi unjuk rasa pada Kamis 28 Agustus 2025...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img