Anak-anak sekolah dibunuh, dunia diam. Lalu ketika korban balik melawan dan mulai mengguncang kepentingan ekonomi para penonton — barulah dunia berteriak: “Hentikan perang!”
Opini Geopolitik | visibangsa.com – Bayangkan seorang anak perempuan. Ia memakai seragam sekolah. Mungkin masih menyimpan bekal makan siang yang disiapkan ibunya pagi tadi. Mungkin sedang menghapal pelajaran, atau berbisik-bisik dengan teman sebangkunya tentang hal-hal kecil yang hanya penting bagi mereka berdua. Lalu dalam sekejap — semuanya berakhir. Bukan karena sakit. Bukan karena kecelakaan. Tapi karena bom yang dijatuhkan oleh negara yang menyebut dirinya pembela peradaban dan penegak hak asasi manusia.
Dunia menyaksikan. Dan dunia memilih diam. Diam itu tidak gratis. Diam itu memilih pihak.
Lima Minggu yang Dibiarkan Terjadi
Lima minggu. ya hanya dalam lima minggu, koalisi Amerika Serikat dan Israel telah melakukan apa yang mereka sebut “operasi militer terukur” — sebuah eufemisme busuk untuk agresi brutal yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menghancurkan kota-kota, dan merenggut nyawa warga sipil yang bahkan tidak tahu apa-apa tentang geopolitik. Termasuk anak perempuan yang tewas di bangku sekolahnya itu.
Selama lima minggu itu, tidak ada kecaman keras yang benar-benar menggigit dari panggung internasional. Tidak ada sidang darurat yang punya taring. Tidak ada analis terkemuka yang dengan lantang dan konsisten berteriak: “Ini agresi. Ini kejahatan. Ini harus dihentikan sekarang.”
Yang ada hanyalah bahasa-bahasa steril yang sudah sangat kita kenal. “Keprihatinan mendalam.” “Situasi yang terus dipantau.” “Kedua pihak diminta menahan diri” — seolah ada dua pihak yang setara, padahal satu pihak sedang dibom habis-habisan dan pihak yang lain yang mengebom.
Lima minggu agresi itu dibiarkan berlangsung dalam kesunyian yang memalukan. Karena dunia — atau lebih tepatnya, mereka yang mendefinisikan apa yang boleh dan tidak boleh disebut sebagai kejahatan internasional — sudah memilih pihaknya jauh sebelum bom pertama dijatuhkan.
Negeri yang Tidak Boleh Bertahan Hidup
Dalam kalkulasi para perancang perang di Washington dan Tel Aviv, Iran seharusnya sudah berlutut sejak lama.
Empat puluh tujuh tahun embargo. Empat puluh tujuh tahun dikucilkan dari sistem keuangan dunia. Generasi demi generasi rakyat Iran tumbuh di bawah tekanan ekonomi yang dirancang dengan satu tujuan tunggal: membuat mereka menyerah, memberontak dari dalam, lalu runtuh dengan sendirinya. Tanpa perlu ditembak. Cukup dicekik perlahan dari luar.
Tapi ada fakta yang terus-menerus disembunyikan dari publik global — fakta yang terasa seperti duri di tenggorokan para analis Barat: rakyat Iran tidak runtuh.
Mereka tetap menyekolahkan anak-anaknya. Membangun rumah sakit. Mengembangkan ilmu pengetahuan. Bahkan — dan inilah yang paling sulit diterima oleh mereka yang selama ini meremehkan — membangun industri pertahanan yang mandiri dan efisien, yang kini terbukti mampu menjangkau jantung Tel Aviv dan memukul pangkalan-pangkalan militer AS yang selama ini dianggap tak tersentuh oleh siapapun.
Empat puluh tujuh tahun dihukum karena berani berbeda, berani berdaulat, berani tidak patuh. Empat puluh tujuh tahun bertahan dalam kepungan. Dan ketika mereka akhirnya membuktikan bahwa mereka tidak hanya mampu bertahan tapi juga mampu melawan secara efektif — dunia tiba-tiba menyebutnya ancaman bagi stabilitas global.
Bukan agresornya yang disebut ancaman. Korban yang bertahan hidup itulah yang dianggap berbahaya.
Keprihatinan yang Datang Terlambat — dan Sangat Terasa Palsu
Maka ketika rudal-rudal Iran meluluhlantakkan Tel Aviv dan pangkalan militer AS di kawasan Teluk, ketika Selat Hormuz — jalur vital yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan energi dunia — ditutup dan harga minyak meledak dari Tokyo hingga Frankfurt, barulah dunia bergerak.
Bukan untuk mengutuk agresi yang sudah berlangsung lima minggu itu. Bukan untuk menuntut koalisi AS-Israel bertanggung jawab atas nyawa yang telah direnggut. Tapi untuk meminta korban berhenti melawan.
Para analis geopolitik yang lima minggu penuh memilih bungkam tiba-tiba muncul di layar televisi dengan wajah penuh keprihatinan. Mereka bicara soal “penderitaan rakyat Iran yang akan berkepanjangan”, bicara soal “dampak ekonomi yang akan menghancurkan masyarakat sipil”, bicara soal perlunya Iran segera “kembali ke meja perundingan.”
Sungguh menyentuh. Sungguh terlambat. Dan sungguh terasa palsu.
Di mana keprihatinan itu ketika anak perempuan itu tewas di sekolahnya? Di mana kepedulian pada rakyat Iran ketika embargo mencekik kehidupan mereka selama empat dekade? Di mana seruan “meja perundingan” itu ketika Israel menduduki tanah Palestina hari demi hari, tahun demi tahun, sementara dunia menonton sambil memilih kata-kata yang paling tidak menyinggung Tel Aviv dan Washington?
Kepedulian yang datang hanya ketika Selat Hormuz tertutup dan harga BBM di negara-negara Barat melonjak bukan kepedulian. Itu kepanikan yang berpakaian kemanusiaan. Dan bedanya sangat mudah dikenali: kepanikan itu tidak pernah muncul saat yang menderita hanya rakyat Iran, atau rakyat Palestina, atau siapapun yang tidak berdampak pada harga saham di Wall Street.
Kemunafikan yang Berseragam Netralitas
Perhatikan dengan saksama apa yang sesungguhnya mereka serukan, dan apa yang mereka paling keras hindari untuk diucapkan.
Mereka meminta Iran berhenti berperang — tapi tidak meminta Israel mundur dari Palestina yang sudah diduduki lebih dari tujuh dekade. Mereka bicara soal “meja perundingan” — tapi tidak menyebut siapa yang pertama kali memilih rudal sebagai bahasa komunikasinya. Mereka mengkhawatirkan “dampak ekonomi pada rakyat Iran” — tapi tidak pernah sekalipun mempersoalkan dampak empat puluh tahun embargo yang mereka dukung diam-diam.
Dan yang paling telanjang: mereka meminta korban berhenti melawan — bukan meminta pelaku berhenti menyerang.
Ini adalah kemunafikan yang berseragam netralitas. Retorika yang dikemas seolah melindungi kepentingan rakyat Iran, padahal sesungguhnya hanya melindungi kepentingan pihak yang mulai tersudut secara militer dan terpukul secara ekonomi. Ketika agresi sedang berjalan mulus, dunia diam. Ketika korban mulai balik melawan dengan efektif, dunia tiba-tiba fasih berbicara tentang perdamaian.
Perdamaian untuk siapa? Di atas kerangka keadilan yang mana?
Palestina: Nama yang Selalu Absen
Ada satu kata yang selalu menghilang dari semua analisis mereka — sengaja dihilangkan, atau mungkin sudah terlalu berbahaya untuk diucapkan dengan jujur: Palestina.
Tanah yang sudah lebih dari tujuh dekade diduduki. Rakyat yang hingga hari ini hidup di bawah blokade, kehilangan rumah, kehilangan anggota keluarga satu per satu, kehilangan masa depan secara sistematis. Anak-anak yang lahir di kamp pengungsian dan bisa jadi akan mati di kamp yang sama — tanpa pernah sekalipun menginjakkan kaki di tanah leluhur mereka sendiri.
Mengapa para analis itu tidak pernah mendesak Israel keluar dari wilayah pendudukan sebagai syarat pertama perdamaian? Mengapa tidak ada desakan keras agar AS menghentikan suplai senjata dan perlindungan diplomatiknya kepada agresor? Mengapa meja perundingan hanya dibuka ketika korban mulai melawan secara efektif — bukan sejak hari pertama agresi dimulai?
Karena jawaban dari semua pertanyaan itu mengarah ke satu tempat yang tidak ingin mereka tuju: pengakuan bahwa selama ini, ketidakadilan itu bukan kecelakaan. Ia adalah kebijakan. Ia dirancang, didanai, dan dilindungi oleh pihak-pihak yang hari ini paling keras meminta Iran duduk dan diam.
Hak Paling Tua di Dunia
Jauh sebelum ada PBB, sebelum ada konvensi internasional, sebelum ada hukum perang yang ditulis di atas kertas mewah oleh negara-negara yang kemudian memilih sendiri kapan hukum itu berlaku — ada satu hak yang diakui bahkan oleh naluri paling purba manusia: Hak untuk melawan penindasan..!
Bukan karena perang itu indah. Tidak ada yang indah dari perang — tidak ada yang indah dari kota-kota yang rata dengan tanah, dari ibu-ibu yang menggali reruntuhan mencari nama yang dipanggil-panggilnya, dari anak-anak yang tumbuh dalam trauma yang akan menemani mereka hingga tua. Perang adalah tragedi. Selalu.
Tapi ada yang lebih tragis dari perang: menyerah kepada penindasan sambil menyebutnya perdamaian.
Sejarah tidak pernah mencatat satu pun penindas yang berhenti menindas karena korbannya bersabar dan memilih jalur diplomasi yang sudah didesain untuk selalu menguntungkan pihak yang lebih kuat. Yang tercatat dalam sejarah, selalu, hanya satu cara yang benar-benar mengubah keadaan: perlawanan.
Logikanya jelas, meski menyakitkan untuk diakui: jika perlawanan masih mungkin, mengapa kaum tertindas harus berhenti? Dan jika Iran — dengan segala keterbatasan yang dimilikinya setelah empat puluh tahun dikepung — ternyata masih mampu berdiri dan melawan, maka seruan agar mereka berhenti bukan seruan kemanusiaan. Itu seruan agar penindasan dapat dilanjutkan dengan lebih nyaman.
Surat untuk Dunia yang Terlalu Lama Memilih Diam
Iran hari ini bukan sekadar tentang Iran. Ini tentang sebuah pertanyaan yang akan terus relevan selama masih ada satu jengkal tanah yang diduduki secara paksa di muka bumi ini: Apakah yang tertindas memiliki hak untuk melawan?
Jika jawabannya ya — dan semestinya ya, karena bahkan konstitusi negara-negara yang paling lantang berbicara soal demokrasi dan hak asasi pun mengakui ini — maka semua seruan agar Iran menghentikan perlawanannya, sementara agresor tidak diminta mundur, tidak diminta bertanggung jawab, dan tidak diminta membayar satu sen pun atas nyawa yang telah direnggutnya, adalah seruan yang tidak bermoral. Ia bukan seruan damai. Ia adalah seruan agar ketidakadilan dapat berlangsung lebih tenang dan lebih lama.
Dan jika jawabannya tidak — jika dunia memang sudah memutuskan bahwa yang tertindas harus diam, menunduk, dan menerima — maka katakanlah itu dengan jujur. Tanggalkan bahasa kemanusiaan itu. Jangan lagi gunakan kata-kata seperti “perdamaian”, “stabilitas”, dan “dialog” untuk menggambarkan dunia di mana hanya yang kuat yang berhak menentukan aturan, dan hanya yang lemah yang diwajibkan mematuhinya.
Anak perempuan yang tewas di sekolahnya itu tidak butuh bahasa diplomatik.
Ia hanya butuh satu hal yang sangat sederhana, yang ternyata sangat sulit diberikan oleh dunia ini: pengakuan jujur bahwa apa yang menimpanya adalah kejahatan. Dan kejahatan — tidak peduli betapa kuatnya pelakunya, tidak peduli betapa strategisnya kepentingan di baliknya — tidak pernah berhak meminta korbannya untuk berdamai.
Selama pengakuan itu belum ada, semua seruan “damai” yang datang dari panggung internasional hanyalah satu hal: keberpihakan yang berseragam keprihatinan. | Penulis Host JUST TALKS Jurnal Politik TV



