KILANG TERBESAR DUNIA TERBAKAR, AS TUDING IRAN : Template Propaganda dan Kebohongan Lama

Must Read

Belum padam asapnya. Belum dingin reruntuhannya. Tapi Washington sudah tahu siapa pelakunya. Bukan dari investigasi, bukan juga dari bukti. Tapi dari satu hal yang lebih pasti dari keduanya: kepentingan..!

Opini Politik Internasional | visibangsa.com – Jari telunjuk Amerika sudah diarahkan ke Teheran bahkan sebelum tim forensik menginjakkan kaki di lokasi. Itulah yang disebut “kepemimpinan global” versi Washington — menuduh lebih dulu, membuktikan nanti, dan jika buktinya tidak ada, cukup ulangi tuduhannya lebih keras di podium yang lebih besar.

Kita sudah menyaksikan pertunjukan ini sebelumnya. Berkali-kali.

AS Sudah Punya Template Kebohongan

Amerika tidak perlu berimprovisasi. Mereka punya rumus yang sudah teruji.

1964 – Kapal perang AS diklaim diserang di Teluk Tonkin oleh Vietnam Utara. Kongres panik, perang pun meletus. Puluhan tahun kemudian, dokumen rahasia yang dibuka paksa mengonfirmasi apa yang sudah banyak dicurigai: insiden itu sebagian besar fiktif. Biayanya? 58.000 tentara Amerika. Tiga juta jiwa Vietnam. Sebuah negara yang dilumat habis demi sebuah kebohongan yang elegan.

1965 – Colin Powell berdiri di depan Dewan Keamanan PBB, mengangkat botol kecil berisi “anthrax”, menampilkan foto-foto satelit yang katanya membuktikan keberadaan senjata pemusnah massal di Irak. Para diplomat manggut-manggut. Media bertepuk tangan. Perang pun dimulai. Tidak ada satu pun senjata pemusnah massal yang ditemukan. Tidak satu pun. Irak hancur, lebih dari satu juta orang tewas, dan Colin Powell — sebelum wafat — mengakui presentasi itu sebagai “noda permanen” dalam hidupnya.

Lalu, 2019. Kilang Aramco terbakar. Dan dalam hitungan jam, tanpa penyelidikan, tanpa verifikasi, tanpa rasa malu — Amerika kembali menunjuk. Kali ini ke Teheran.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) saat itu, Mike Pompeo menuding Iran berada di balik serangan terhadap dua pabrik Aramco di provinsi Abqaiq dan Khura, Arab Saudi.

Abqaiq, 60 km sebelah barat daya Dhahran, terdapat pabrik pemrosesan minyak terbesar di dunia. Sedangkan Khurais, 190 km di wilayah barat daya negara tersebut, memiliki ladang minyak terbesar kedua di Saudi.

“Teheran berada di balik hampir 100 serangan terhadap Arab Saudi sementara (Hassan) Rouhani dan (Mohammad Javad) Zarif berpura-pura terlibat dalam diplomasi,” kata Pompeo melalui akun Twitternya tulis sejumlah media.

Jika Anda tidak melihat polanya, berarti Anda tidak sedang membaca berita. Anda sedang menonton sandiwara.

Kini 2026, entah benar terjadi atau tidak: di tengah Iran melakukan pembalasan atas serangan brutal AS dan Israel, media internasional kembali menyebut “Iran Serang Kilang Amraco” berita ini kemudian ramai-ramai dikutip oleh hampir seluruh media dunia termasuk media-media di Indonesia.

Houthi Mengaku, Tapi Siapa yang Mau Dengar?

Inilah fakta yang sengaja dikubur dalam-dalam oleh media-media besar Barat jauh sebelumnya: Houthi sudah mengklaim serangan ini. Secara terbuka. Secara resmi. Dengan bangga.

Bukan bisikan. Bukan klaim anonim. Ini adalah pengumuman resmi dari gerakan yang memang sedang berperang dengan Arab Saudi — perang yang sudah berlangsung bertahun-tahun, perang yang memakan puluhan ribu nyawa rakyat Yaman, perang yang sebagian besar didanai oleh Riyadh dengan senjata buatan Washington. Tapi klaim Houthi? Diabaikan. Dilompati. Dianggap tidak relevan.

Karena Houthi bukan musuh yang tepat untuk narasi yang sedang dibangun. Houthi tidak bisa dijadikan justifikasi untuk mengepung Iran. Houthi tidak bisa dijadikan alasan untuk memperbarui kontrak senjata senilai miliaran dolar. Houthi tidak berguna bagi agenda Washington dan Tel Aviv.

Maka klaim mereka pun dibuang ke keranjang sampah sejarah — bersama fakta-fakta lain yang terlalu merepotkan untuk diakui.

Pertanyaan yang Tidak Ingin Dijawab Siapa Pun: Cui Bono?

Lupakan sejenak soal bukti. Mari kita bicara logika dasar. Jika Iran benar menyerang kilang Aramco — apa yang Iran dapatkan?

Sanksi yang makin mencekik? Sudah ada. Justifikasi militer AS untuk memukul Iran? Sudah lama diinginkan Washington. Persatuan negara-negara Teluk di bawah naungan Pentagon? Bisa dipastikan terjadi. Isolasi Iran dari komunitas internasional yang sudah tipis? Makin tipis lagi.

Dengan kata lain: Iran menyerang Aramco sama artinya Iran menembak kakinya sendiri, lalu memberi musuh peluru cadangan.

Tidak ada pemimpin waras yang melakukan itu. Bahkan pemimpin paling nekat pun tidak. Sekarang pertanyaan sebaliknya: siapa yang diuntungkan dari semua ini?

Amerika mendapat alasan memperbesar pangkalan militer di kawasan — yang artinya kontrak senjata lebih besar, pengaruh lebih dalam, dan cengkeraman lebih kuat atas negara-negara Teluk. Israel mendapat musuh bersama yang menyatukan Arab dan Barat dalam satu barisan — persis yang mereka butuhkan untuk mengalihkan perhatian dari pendudukan dan pembantaian di Gaza. Arab Saudi mendapat pembenaran untuk terus membeli senjata dalam jumlah obscen dari Washington. Semua orang menang. Kecuali rakyat kawasan.

Israel: Arsitek Narasi yang Paling Ulung.

Jangan lupakan peran Israel dalam drama ini. Selama dua dekade terakhir, Israel telah menginvestasikan miliaran dolar dan ratusan jam lobi diplomatik untuk satu proyek tunggal: memposisikan Iran sebagai iblis kawasan yang harus dihancurkan.

Bukan karena Iran benar-benar mengancam eksistensi Israel — negara dengan ratusan hulu ledak nuklir yang tidak pernah diakui, armada jet tempur paling canggih di kawasan, dan dukungan buta dari negara adidaya tunggal di dunia. Tidak ada yang bisa mengancam Israel secara militer dalam jangka pendek.

Tapi narasi “ancaman Iran” berguna untuk sesuatu yang jauh lebih penting: pengalihan perhatian. Selama dunia sibuk memandang ke arah Teheran, tidak ada yang punya waktu untuk memperhatikan pemukiman ilegal yang terus meluas di Tepi Barat, blokade Gaza yang mencekik dua juta manusia, atau pengeboman sistematis terhadap infrastruktur sipil Lebanon. Iran adalah tirai. Dan Amerika adalah tangan yang memegang talinya.

Media Barat: Jurnalisme atau Juru Bicara AS-ISRAEL?

Coba lakukan eksperimen sederhana. Ketik “Aramco attack Iran” di mesin pencari. Lihat berapa puluh ribu hasil yang muncul — semua dengan nada yang hampir identik: Iran dituduh, Iran berbahaya, dan Iran harus diisolasi.

Sekarang ketik “Houthi claims Aramco attack.” Lihat betapa sepinya. Ini bukan kebetulan. Ini adalah pilihan editorial yang sangat terencana.

Ketika media memutuskan berita mana yang mendapat halaman depan dan berita mana yang dikubur di paragraf paling bawah, mereka tidak sedang melaporkan realitas — mereka sedang menciptakannya. Dan realitas yang mereka ciptakan selalu, tanpa pengecualian, selaras dengan kepentingan Washington.

Propaganda paling berbahaya bukan yang datang dari radio pemerintah dengan lagu-lagu patriotik. Propaganda paling berbahaya adalah yang datang berpakaian objektivitas, mengutip “sumber anonim yang terpercaya”, dan tayang di kanal-kanal berita dengan reputasi berlapis-lapis.

CNN bisa berbohong. BBC bisa memilih fakta. Reuters bisa melayani agenda. Sejarah sudah membuktikannya — dari Tonkin hingga Baghdad.

Negara Teluk: Sudah Saatnya Berhenti Jadi Bidak

Untuk Arab Saudi, UEA, dan negara-negara Teluk lainnya — ada satu pertanyaan yang harus dijawab dengan jujur:

Kapan terakhir kali Amerika benar-benar melindungi kepentingan kalian — bukan kepentingan mereka sendiri?

Washington tidak hadir di Teluk karena cinta. Mereka hadir karena minyak, karena pangkalan militer, dan karena kawasan yang terus-menerus dalam kondisi tidak stabil adalah kawasan yang terus-menerus membutuhkan “perlindungan” mereka — yang tentu saja harus dibayar mahal.

Ketegangan antara Riyadh dan Teheran bukan konflik organik dua bangsa bertetangga. Ia adalah proyek yang dipelihara dengan cermat oleh kekuatan luar yang tahu betul bahwa Dunia Islam yang bersatu adalah ancaman terbesar bagi hegemoni mereka.

Selama Arab dan Persia saling menerkam, Amerika tertawa. Israel bernapas lega. Dan rakyat Yaman, Suriah, Irak, dan Gaza terus mati — sementara para pemimpin kawasan sibuk memilih pihak dalam perang yang bukan milik mereka.

Saatnya Memilih: Melek atau Dimanfaatkan

Bukan berarti Iran suci. Kebijakan regional Teheran punya borok-boroknya sendiri yang layak dikritik — dari Suriah hingga Lebanon hingga Yaman.

Tapi kritik terhadap Iran harus lahir dari kebenaran — bukan dari fabrikasi Washington yang sudah berkali-kali terbukti berbohong demi kepentingannya sendiri.

Yang sedang kita hadapi bukan sekadar persoalan siapa yang menyerang kilang minyak. Yang sedang kita hadapi adalah pertanyaan fundamental: apakah kita bersedia terus membiarkan Barat menentukan musuh kita, mendikte respons kita, dan memanen keuntungan dari perpecahan kita?

Setiap kali asap mengepul, Amerika menuding. Setiap kali Amerika menuding, perang meletus. Dan setiap kali perang meletus, yang membayar harganya bukan orang-orang di Washington atau Tel Aviv.

Yang membayar harganya adalah kita. Sudah cukup..! | Penulis Host JUST TALKS Jurnal Politik TV

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

MEMBACA KASUS KERRY ADRIANTO : Akankah Keadilan Tersungkur di Tengah Takbir Ramadhan?

Opini Sosial Politik | visibangsa.com - Setiap Ramadhan, ruang publik di Indonesia dipenuhi seruan moral. Masjid hidup, ayat suci...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img