KHUTBAH IDUL FITRI DI PRIOK : Kaban Singgung Soal Ukhuwah, Perang dan Kekuatan Dunia Islam

Must Read

News | visibangsa.com, Jakarta Utara — Seribuan lebih jamaah shalat Idul Fitri memadati halaman dan jalanan depan masjid Al-Husna di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Pagi itu, mantan Menteri Kehutanan Republik Indonesia, DR. Malam Sambat Kaban, tampak duduk bersimpuh khusyuk dalam suasana khidmat di tengah gema gemuruh takbir yang bersahutan bersama jamaah lainnya, yang terus datang berduyun-duyun.

Kehadiran Kaban di Masjid yang penuh keberkahan ini, menurut pengurus masjid setempat memang sengaja dihadirkan untuk menyampaikan khutbah bertema “Ukhuwah: Sumber Kekuatan Dunia Islam” — sebuah pesan yang terasa sangat relevan di tengah krisis geopolitik yang tengah mengguncang dunia Islam.

“Kita mungkin berbeda mazhab dengan saudara-saudara kita di Iran. Tapi mereka adalah jiwa-jiwa Muslim, mereka adalah manusia. Islam tidak pernah mengizinkan kita untuk menutup mata ketika saudara sedang dalam ancaman,” tegasnya kepada awak media yang meliput pelaksanaan Sholat Idul Fitri di Masjid Al-Husna, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (20/03-2026).

Usai sholat Iedul Fitri, DR. MS Kaban memulai khutbahnya langsung menyentuh realitas yang sedang dialami umat Islam global. Ia mengingatkan bahwa perayaan Idul Fitri tahun ini tidak bisa dipisahkan dari kondisi saudara-saudara Muslim di berbagai penjuru dunia yang masih berada dalam tekanan berat.

“Idul Fitri tahun ini kita rayakan dalam bayang-bayang yang tidak bisa kita pura-pura tidak ada. Saudara-saudara kita di Gaza masih mengangkat puing-puing reruntuhan dengan tangan kosong. Dan kini, Iran — negeri dengan lebih dari 80 juta jiwa Muslim — berdiri di bibir jurang konflik terbuka dengan kekuatan militer terbesar di dunia,” ujar Kaban di hadapan ribuan jamaah yang memenuhi halaman dan jalan di depan masjid.

Meski saat menyampaikan khutbah, sengatan matahari pagi terasa mulai menyengat, namun seribuan jamaah itu tampak khusuk menyimaknya tanpa terlihat ada yang bergerak meninggalkan lokasi.

Memasuki inti khutbah, DR. MS Kaban mengajak jamaah merenungkan QS Al-Hujurat ayat 13 sebagai fondasi utama persaudaraan Islam. Ia menekankan bahwa seruan Allah dalam ayat tersebut ditujukan kepada seluruh umat manusia — bukan hanya kepada orang beriman atau bangsa tertentu.

“Perhatikan, Allah memulai dengan ‘Yā ayyuhan-nās’ — wahai seluruh manusia. Perbedaan suku dan bangsa bukan alasan perpecahan. Ia adalah anugerah keanekaragaman agar kita saling mengenal, saling belajar, saling melengkapi,” jelas Kaban.

Menegaskan kesamaaan memandang sisi kemanusiaan itu Kaban pun mengutip satu hadits teladan Rasulullah SAW yang berdiri menghormati jenazah seorang Yahudi, dan ketika ditanya para sahabat, menjawab: “Bukankah ia jiwa?” — sebuah standar kemanusiaan yang melampaui batas agama, suku dan kebangsaan.

Khutbah ditutup dengan doa yang mengharukan. Kaban secara khusus mendoakan saudara-saudara Muslim yang tertindas di Palestina, Suriah, dan Iran, serta memohon kepada Allah agar menyatukan barisan umat Islam di seluruh dunia.

Usai shalat dan khutbah, ribuan jamaah larut dalam suasana haru saling bersalaman, bermaaf-maafan, dan merayakan kemenangan Idul Fitri 1447 Hijriyah dengan penuh kebahagiaan.

Dalam kesempatan silaturrahmi usai pelaksanaan sholat Idul Fitri kali ini, Kaban juga berkesempatan menjelaskan kembali makna substansial isi khutbahnya kepada sejumlah media yang meliput.

Kaban sempat menyebut bahwa serangan udara Israel yang didukung Amerika Serikat terhadap fasilitas-fasilitas strategis Iran telah membawa Selat Hormuz — jalur lebih dari sepertiga pasokan minyak global — ke dalam ketegangan yang belum pernah setinggi ini. Ia menegaskan bahwa perbedaan mazhab tidak boleh menjadi alasan umat Islam menutup mata terhadap penderitaan saudara seiman.

Di sisi lain merujuk pada QS Al-A’raf ayat 96, Kaban juga menegaskan kembali bahwa ukhuwah bukan sekadar urusan perasaan. Ia memiliki konsekuensi nyata bagi kehidupan suatu bangsa dan umat.

“Berkah yang Allah janjikan adalah berkah kolektif. Jika umat Islam hari ini terpecah belah, saling mencurigai, saling menjatuhkan — jangan heran jika sumber daya alam yang melimpah di negeri-negeri Muslim tidak mampu menyejahterakan rakyatnya,” ungkapnya dengan nada tegas.

Mantan Menteri Kehutanan di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu juga mengutip hadits Rasulullah SAW riwayat Bukhari dari Abdullah bin Umar, bahwa seorang Muslim tidak boleh membiarkan saudaranya teraniaya. “Diam di hadapan kezaliman yang menimpa saudara seiman bukan sikap netral — ia adalah pelanggaran ukhuwah,” katanya.

Kaban juga mengingatkan agar ummat membangkitkan kembali semangat persaudaraan Muhajirin dan Anshar di Madinah sebagai model solidaritas yang belum tertandingi peradaban manapun hingga kini. Ia mengutip QS Al-Hasyr ayat 9 tentang itsar — sikap mendahulukan kepentingan saudara di atas diri sendiri — bahkan di tengah kekurangan sendiri.

“Kaum Anshar tidak menunggu kaya dulu baru berbagi. Mereka berbagi di tengah keterbatasan mereka. Pertanyaannya untuk kita hari ini: apakah semangat itsar itu masih hidup di dada kita?” ujar Kaban, yang disambut keheningan khusyuk dari ribuan jamaah.

Kaban juga menyinggung kisah Talut dalam QS Al-Baqarah ayat 249 sebagai jawaban atas pesimisme umat tentang kelemahan dunia Islam hari ini.

“Al-Qur’an telah menjawab empat belas abad yang lalu: ‘Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.’ Masalah kita bukan soal jumlah dan kekuatan material. Masalah kita adalah disiplin, keyakinan, dan solidaritas,” tegasnya.

Ia menyebut tiga kunci kemenangan yang terkandung dalam ayat tersebut: lulus ujian disiplin, keyakinan yang mengalahkan logika ketakutan, dan sabar yang strategis — bukan sabar yang pasif dan menyerah.

Secara khusus Kaban menyampaikan lima catatan penting untuk dibawa pulang, jamaah:

Pertama, memuliakan sesama manusia tanpa memandang suku, partai, atau mazhab. Kedua, menjadi berkah nyata bagi lingkungan terdekat — tetangga, yatim, dan kaum lemah. Ketiga, mempraktikkan itsar — mendahulukan kepentingan saudara. Keempat, menolak menjadi bagian dari perpecahan umat, termasuk di ruang digital. Kelima, tidak berpaling dari saudara-saudara yang tertindas di Palestina, Suriah, Iran, dan di berbagai penjuru dunia.

“Ukhuwah bukan slogan. Ia adalah amal. Dan amal dimulai dari yang paling dekat — dari tetangga kita, dari lingkungan kita, dari sini,” pungkas Kaban kepada kru visibangsa.com dan awak media lainnya. | lipsus kru visibangsa.com

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

MULASARA BUWANA KUNJUNGI PERSEMAIAN RUMPIN : Bangun Sinergi Hutan Sekolah

News & Talks | visibangsa.com BOGOR — Pagi itu udara di kawasan Rumpin masih basah oleh embun ketika rombongan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img