Ketika Sawit Dijadikan Kambing Hitam Bencana

Must Read

Opini Bang Hadhy | VISIBANGSA.COM – Setiap kali banjir bandang melanda, publik seolah telah memiliki terdakwa tetap: sawit..! Narasi itu kembali menguat pasca bencana di Aceh dan Sumatera Utara. Sawit dituding sebagai biang kerok, tanpa jeda untuk berpikir jernih, apalagi memeriksa fakta di lapangan. Padahal, fakta justru menunjukkan sebaliknya.

Mari kita gunakan logika sederhana. Banjir bandang yang menerjang kawasan hilir membawa ribuan gelondongan kayu dan kubikasi lumpur tanah dalam jumlah masif. Anehnya, tak satu pun laporan menyebut batang pohon sawit ikut hanyut. Ini bukan detail sepele. Jika sawit memang menjadi penyebab utama, ke mana perginya pohon-pohon sawit itu saat air bah turun dengan daya rusak luar biasa?

Fakta lain yang kerap diabaikan: kebun sawit umumnya terhampar di wilayah relatif datar, bukan di lereng curam kawasan hulu pegunungan. Secara geomorfologi, sumber banjir bandang justru berasal dari wilayah hulu yang kehilangan tutupan vegetasi. Dari sanalah tanah, lumpur, dan kayu dihanyutkan tanpa kendali. Bukti paling kasat mata terlihat hari ini—lumpur di kawasan hilir masih menggunung, bahkan ada yang mencapai ketinggian dua hingga tiga meter.

Lebih jauh lagi, di beberapa area terdampak ditemukan residu-residu hasil pertambangan, seperti kandungan emas dan minyak yang tercampur dalam endapan lumpur. Temuan ini bukan sekadar anomali alam, melainkan petunjuk kuat tentang aktivitas ekstraktif di kawasan hulu. Residu semacam ini mustahil muncul dari kebun sawit. Ia lahir dari proses pembongkaran lapisan tanah dan batuan, ciri khas kegiatan pertambangan yang mengupas bumi hingga ke perutnya.

Lalu, apa yang sebenarnya terjadi di kawasan hulu? Di sanalah pertanyaan kritis seharusnya diarahkan. Pengupasan hutan hingga rumput pun tak tersisa demi kepentingan pertambangan adalah fakta yang tak bisa disangkal. Ketika badai siklon datang dengan curah hujan ekstrem, kawasan hulu yang telanjang itu tak lagi mampu menahan air. Semua yang berada di permukaan tanah—kayu sisa pembukaan lahan, lapisan tanah, hingga material tambang—meluncur bebas ke hilir, menghantam pemukiman warga.

Ironisnya, meski bukti fisik begitu jelas, aktivitas pertambangan di kawasan hulu justru relatif “aman” dari tudingan. Sementara sawit, yang secara spasial dan faktual tak berada di lokasi sumber bencana, kembali divonis bersalah. Ini bukan sekadar salah sasaran, tetapi soal keberanian publik dan pembuat kebijakan untuk menyentuh aktor-aktor yang benar-benar berkuasa.

Mengapa kita begitu mudah ikut meramaikan vonis terhadap sawit, tetapi ragu menyoroti tambang? Apakah karena sawit sudah terlanjur menjadi musuh populer, sementara pertambangan berada dalam lingkar kepentingan yang lebih kuat dan sensitif?

Bencana seharusnya menjadi momentum untuk berpikir jernih, bukan ajang pelampiasan emosi dan simplifikasi masalah. Jika kita terus salah membaca sebab, maka solusi pun akan salah arah. Yang dikorbankan bukan hanya kebenaran, tetapi juga keselamatan warga di hilir yang kelak akan kembali menghadapi bencana serupa.

Sudah saatnya kita mengendalikan pikiran dan perasaan, menempatkan fakta sebagai panglima. Tanpa itu, kita hanya akan terus berputar dalam narasi keliru—dan bencana akan kembali berulang, dengan korban yang sama: rakyat. | Penulis Host JUST TALKS Jurnal Politik TV

- Advertisement -spot_img

3 KOMENTAR

  1. Alright, gotta say, ggbbbet has been pretty decent to me. The site’s easy to navigate, and I haven’t had any major issues cashing out. Plus, their bonuses are actually worth grabbing sometimes. Check it out at ggbbbet.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img
Latest News

Wajah Anakmu Dijual Penguasa: Paradoks Gelap PP Tunas

Ketika "Perlindungan Anak" Menjadi Trojan Horse Surveilans Digital OPINI PENGAMAT | visibangsa.com - Ada sebuah paradoks yang mengganggu di jantung...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img