KETIKA PEREMPUAN BICARA UANG & INVESTASI : Kisah Sisterhood yang Dibangun di Atas Literasi

Must Read

News | visibangsa.com – Mataram, 7 Maret 2026 — Sore itu, di sudut Camoris Coffee & Resto, Mataram, puluhan perempuan duduk berdampingan — meski raut lelah puasa tak bisa disembunyikan, namun aura kehebatan perempuan terpancar kuat.

Mereka bukan sekadar menghadiri acara berbuka puasa bersama. Tapi datang untuk bicara tentang sesuatu yang selama ini kerap dianggap tabu di kalangan perempuan: uang, investasi, dan kemandirian finansial.

Obrolan bertajuk “Cerdas Investasi, Kuat Bersaudara: Mewujudkan Digital Sisterhood yang Berdaya secara Finansial” ini sengaja digelar bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional, 7 Maret 2026. Bukan sebuah kebetulan. Ini adalah pesan — bahwa pemberdayaan perempuan bukan hanya soal hak politik atau kesetaraan di ruang publik, tetapi juga soal siapa yang memegang kendali atas keuangannya sendiri.


Komunitas Sebagai Ruang Aman

Di balik layar acara ini berdiri tiga komunitas yang berkolaborasi: Grow and Learn Pal (GALPAL), Galeri Investasi Syariah, dan Muslimah Finlit. Nama-nama yang mungkin belum akrab di telinga publik luas, tetapi di kalangan muslimah muda yang bergerak di ranah digital, mereka sudah lama menjadi rujukan.

Hanifah Husein, pendiri GALPAL, naik ke podium dengan nada yang tidak menggurui. Ia berbicara dari pengalaman — tentang bagaimana perempuan sering merasa sendiri ketika mencoba memahami dunia digital yang bergerak cepat.

“Komunitas digital dapat menjadi wadah yang memperkuat sisterhood. Di sana perempuan bisa saling belajar, saling mendukung, dan membangun kesadaran untuk lebih cerdas dalam memanfaatkan teknologi maupun mengelola keuangan,” ujarnya.

Bagi Hanifah, komunitas bukan sekadar grup WhatsApp atau akun Instagram. Ia adalah ekosistem kepercayaan — tempat perempuan berani mengakui bahwa mereka tidak tahu, lalu belajar bersama tanpa rasa malu.


Dari Literasi ke Kemandirian

Narasumber kedua, Hidayatul Azkia, berbicara dengan data. Sebagai pendiri Muslimah Finlit — komunitas yang fokus pada literasi keuangan bagi muslimah — ia paham betul bahwa pengetahuan finansial bukan kemewahan, melainkan kebutuhan dasar.

Ia memaparkan fakta yang tak bisa diabaikan: banyak perempuan Indonesia yang aktif mencari nafkah, tetapi sebagian besar masih menyerahkan keputusan investasi kepada pasangan atau orang tua. Bukan karena tidak mampu — tetapi karena tidak pernah dibekali pengetahuan yang cukup.

“Perempuan perlu memiliki pengetahuan finansial yang kuat agar mampu merencanakan masa depan dengan lebih baik, tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga bagi keluarga,” tegasnya.

Ia mengajak peserta untuk mulai berkenalan dengan investasi berbasis data dan fakta — bukan ikut-ikutan tren, bukan tergiur return fantastis yang berujung jebakan.


Lebih dari Sekadar Talkshow

Jika biasanya talkshow berakhir di sesi tanya jawab, malam itu berbeda. Peserta diajak ke sesi networking bersama Putri Hijabfluencer NTB — sebuah ruang informal yang justru melahirkan percakapan paling jujur tentang tantangan menjadi perempuan yang ingin mandiri secara finansial di era digital.

Acara ditutup dengan pembagian doorprize yang tidak sekadar simbolis: tabungan emas gratis dan merchandise dari Pegadaian Syariah. Seolah ingin mengirim pesan terakhir — bahwa investasi bisa dimulai hari ini, sekecil apapun langkahnya.

Kegiatan ini mendapat dukungan dari Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), EPIKS, Pegadaian Syariah, serta tokoh-tokoh seperti Ibu Hj. Greta Noordiana, SH. Wakil Menteri Transmigrasi RI Viva Yoga Mauladi dan sejumlah figur publik lainnya.


Sebuah Gerakan yang Tumbuh dari Bawah

Yang membuat acara ini berbeda dari seminar finansial kebanyakan adalah atmosfernya. Tidak ada kesan elitis. Tidak ada jargon Wall Street yang mengintimidasi. Yang ada adalah perempuan-perempuan yang duduk setara, berbagi cerita, dan pulang dengan satu keyakinan lebih: bahwa mereka berhak — dan mampu — mengambil keputusan finansial untuk hidupnya sendiri.

Digital sisterhood yang dibicarakan malam itu bukan konsep abstrak. Ia hadir dalam bentuk nomor kontak yang saling disimpan, akun media sosial yang saling di-follow, dan semangat yang dibawa pulang ke meja dapur, ke meja kerja, ke ruang-ruang kecil di mana keputusan finansial sebuah keluarga sesungguhnya dibuat.

Karena pada akhirnya, literasi bukan hanya soal tahu. Ia soal berani. Selamat Hari Perempuan Internasional | editor

- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img
Latest News

ANAK BUKAN MANGSA ALGORITMA: Dukung PP Tunas, Sikat Judol!

Opini Ahli Hukum | visibangsa.com - Malam di banyak rumah Indonesia kini memiliki pemandangan yang sama. Lampu kamar redup....
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img