DARI PELECEHAN KE VIRAL : Matinya Empati di Ruang Digital

Must Read

OPINI PENGAMAT | visibangsa.com – Jangan lagi pura-pura kaget. Pelecehan digital yang viral hari ini bukan kecelakaan, bukan anomali, dan bukan ulah segelintir orang tak bermoral. Ia adalah produk yang disengaja dari platform teknologi global yang membangun algoritma tanpa nurani—dan didanai oleh modal raksasa, termasuk dari negara-negara Timur Tengah yang gemar mengklaim diri sebagai penjaga moral dunia.

Kekerasan digital hari ini bukan sekadar perilaku menyimpang. Ia adalah model bisnis.

Perundungan sebagai Mesin Uang

Platform media sosial global tahu betul apa yang mereka lakukan. Mereka memahami bahwa konten penuh kebencian, pelecehan seksual, dan penghinaan personal menghasilkan keterlibatan lebih tinggi dibanding konten edukatif. Maka algoritma diarahkan ke sana. Tanpa malu. Tanpa tanggung jawab.

Big Tech selalu berlindung di balik jargon “kebebasan berekspresi” dan “netralitas teknologi”. Padahal yang mereka lindungi bukan kebebasan, melainkan arus keuntungan. Setiap klik atas konten pelecehan adalah pemasukan iklan. Setiap korban adalah collateral damage yang dianggap wajar. Ini bukan kegagalan moderasi. Ini keputusan bisnis.

AI yang Dilatih dari Perundungan

Lebih buruk lagi, sistem kecerdasan buatan mereka dilatih dari lautan data yang sarat kebencian, pornografi, dan eksploitasi tubuh—terutama tubuh perempuan. Sebut saja misalnya Grok AI, tidak sekadar mereplikasi kekerasan, ia mengotomatiskannya. Pelecehan menjadi lebih cepat, lebih masif, dan lebih sulit dilacak.

Ketika Big Tech bicara tentang “AI etis”, itu tak lebih dari kosmetik moral. Selama kekerasan menghasilkan engagement, etika hanyalah jargon konferensi.

Modal Timur Tengah: Moral di Mimbar, Amoral di Pasar

Di titik ini, peran negara-negara Timur Tengah sebagai investor besar teknologi dan AI global tak bisa diabaikan. Negara-negara yang di dalam negerinya mengklaim menjunjung tinggi nilai agama, kesopanan, dan kehormatan perempuan—namun menanamkan dana raksasa pada platform yang justru memproduksi dan menyebarkan pelecehan seksual global. Ini kemunafikan kelas dunia.

Di satu sisi, sensor ketat diberlakukan pada warganya. Di sisi lain, uang negara mengalir ke perusahaan teknologi yang mengeksploitasi tubuh perempuan lintas negara demi keuntungan. Moral hanya dipakai untuk mengontrol rakyat, bukan untuk mengendalikan investasi.

Negara-Negara yang Bersembunyi di Balik Pasar

Negara—baik Barat maupun Timur Tengah—sama-sama bersalah karena memilih bersembunyi di balik logika pasar. Regulasi selalu tertinggal, sengaja dilemahkan, atau dikompromikan demi investasi dan stabilitas ekonomi. Kekerasan digital dianggap “biaya sosial” dari inovasi.

Padahal yang terjadi adalah abdikasi tanggung jawab negara. Negara menyerahkan ruang publik digital kepada korporasi global dan modal lintas negara tanpa pagar etika, tanpa hukum yang tegas, tanpa keberpihakan pada korban.

Bukan Netral, Ini Kejahatan Terstruktur

Normalisasi kekerasan digital bukan proses alami. Ia adalah hasil dari kolaborasi busuk antara algoritma rakus, korporasi global, dan investor negara yang bermuka dua. Ketika pelecehan dijadikan hiburan dan dibiayai oleh modal negara, maka kekerasan itu berubah dari tindakan individual menjadi kejahatan terstruktur lintas batas.

Jika platform teknologi global terus dibiarkan mengatur moral publik dunia, dan negara-negara investor terus mencuci tangan atas dampak investasinya, maka jangan bicara soal peradaban. Sebaliknya mereka sedang membangun ekosistem kekerasan global yang sah, menguntungkan, dan dilegalkan pasar.

Dan pada titik itu, diam bukan lagi sikap netral. Diam adalah keberpihakan pada pelaku. | Penulis – Pengamat Perlindungan Anak dan Perempuan di Dunia Digital

- Advertisement -spot_img

3 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img
Latest News

Wajah Anakmu Dijual Penguasa: Paradoks Gelap PP Tunas

Ketika "Perlindungan Anak" Menjadi Trojan Horse Surveilans Digital OPINI PENGAMAT | visibangsa.com - Ada sebuah paradoks yang mengganggu di jantung...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img