News & Talks | visibangsa.com BOGOR — Pagi itu udara di kawasan Rumpin masih basah oleh embun ketika rombongan Perkumpulan Mulasara Buwana tiba di gerbang Pusat Persemaian Tanaman Hutan Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Di antara mereka, berjalan dengan langkah mantap, ada sosok yang namanya tak asing di rimba kebijakan kehutanan Indonesia — Dr. Malam Sambat Kaban, mantan Menteri Kehutanan yang kini memilih jalan sunyi tapi gigih: mendidik generasi muda untuk mencintai hutan.
Kunjungan ini bukan sekadar silaturahmi biasa. Di baliknya tersimpan sebuah gagasan besar yang sedang Kaban bangun pelan-pelan — program Hutan Sekolah, sebuah inisiatif yang mengajak para pelajar dan santri untuk terlibat langsung dalam rehabilitasi hutan: dari menyemai bibit di bedengan, memindahkannya ke lubang tanam, hingga merawatnya sampai tegak berdiri di tanah.
Ketika Pendidikan Turun ke Tanah
Mulasara Buwana bukan organisasi yang gemar panggung. Ia bergerak dari bawah — dari ruang kelas, dari pesantren, dari tangan-tangan muda yang belum pernah menyentuh bibit pohon seumur hidup mereka. Fokusnya tunggal: edukasi dan aksi nyata pemeliharaan hutan serta lingkungan hidup.
Dalam konsep Hutan Sekolah yang digagas Kaban, para siswa dan santri tidak sekadar belajar tentang pohon dari buku teks. Mereka diajak masuk ke siklus penuh — mulai dari persemaian, penanaman, hingga pemeliharaan berkala. Pohon yang mereka tanam adalah pohon yang mereka kenal. Mereka yang menanam, mereka pula yang menjaga.
“Kalau anak-anak punya ikatan dengan pohon yang mereka tanam sendiri, mereka tidak akan membiarkannya mati begitu saja,” ujar Kaban. Prinsip itu sederhana, tapi dalamnya jauh: membangun rasa memiliki terhadap hutan sejak dini adalah fondasi paling kokoh untuk masa depan lingkungan hidup Indonesia.
Rumpin dan Potensi yang Menunggu Dioptimalkan
Pusat Persemaian Tanaman Hutan Rumpin bukan fasilitas sembarangan. Di bawah naungan Kementerian Kehutanan, kawasan ini menyimpan kapasitas produksi bibit pohon hutan dalam skala besar — infrastruktur yang selama ini bekerja melayani program-program penghijauan nasional.
Bagi Kaban dan Mulasara Buwana, tempat ini adalah simpul strategis yang belum sepenuhnya terhubung dengan ekosistem pendidikan lingkungan di tingkat akar rumput. Di sinilah letak peluang itu: bibit yang dihasilkan Rumpin bisa menjadi bahan belajar sekaligus alat aksi bagi ribuan pelajar dan santri yang tengah dibina oleh Mulasara Buwana.
Kunjungan ini, dalam pengertian itulah, adalah langkah pertama dari percakapan yang lebih panjang.
Merajut Sinergi, Bukan Sekadar Kunjungan
Yang Kaban bawa ke Rumpin bukan hanya rombongan — ia membawa proposal moral. Ia berharap kunjungan ini bisa menjadi pembuka jalan bagi sinergi konkret: antara Pusat Persemaian Rumpin sebagai penyedia dan pembina teknis, Pemerintah Daerah Jawa Barat sebagai motor kebijakan regional, dan Mulasara Buwana sebagai jembatan ke komunitas pelajar dan pesantren.
Tiga simpul itu, jika terhubung, bisa membentuk jaringan rehabilitasi hutan yang tidak hanya bergantung pada proyek dan anggaran negara, tetapi hidup dari energi dan keterlibatan masyarakat sipil — terutama generasi mudanya.
Bagi Jawa Barat, yang sebagian besar wilayah hulunya terus menghadapi tekanan deforestasi dan degradasi lahan, tawaran semacam ini seharusnya tidak dibiarkan berlalu begitu saja. Setiap bibit yang tertanam oleh tangan seorang santri di lereng Bogor adalah satu argumen nyata melawan banjir bandang di hilir.
“Gubernur punya kesempatan paling terhormat, untuk bagaimana menyelamatkan kawasan dengan melibatkan partisipasi publik dan instrumen-instrumen yang ada di Jawa Barat,” ujar Kaban
Benih Kecil, Pertaruhan Besar
Di salah satu sudut persemaian, deretan polybag hitam berdiri rapi seperti prajurit kecil — di dalamnya, tunas-tunas muda sedang berjuang menembus tanah gelap menuju cahaya. Pemandangan itu, tanpa disengaja, menjadi metafora paling jujur dari apa yang sedang dilakukan Kaban dan Mulasara Buwana.
Mereka tidak sedang menanam pohon saja. Mereka sedang menanam kesadaran.
Dan seperti bibit di bedengan Rumpin itu, hasilnya mungkin tidak terlihat hari ini. Tapi jika dirawat dengan serius — oleh kementerian, oleh pemerintah daerah, oleh guru, oleh kiai, oleh anak-anak yang mau mengotori tangannya demi sebatang pohon — suatu hari nanti, hutan itu akan tumbuh.
Dan di sana, di antara rindang pohon yang berdiri tegak, akan ada nama-nama yang tidak tertulis di papan manapun: nama para pelajar yang dulu, di suatu pagi yang basah embun, memilih untuk tidak diam. | editor



