Opini Sosial Politik | VISIBANGSA.COM – Parmusi berada pada persimpangan sejarah. Selama puluhan tahun, energi organisasi ini terserap pada konsolidasi ideologi, penguatan dakwah, dan urusan internal yang bersifat ritus sosial. Namun sementara itu, umat Islam justru tertinggal jauh dalam penguasaan ilmu, teknologi informasi, dan kemampuan membaca arah zaman.
Di titik inilah kritik paling mendasar muncul: Parmusi kuat dalam gerak, tetapi lemah dalam pikir. Banyak aktivitas, minim produksi gagasan.
Dimensi Ulul Albab—yang harusnya menjadi mesin nalar organisasi—nyaris tidak mendapat ruang strategis. Padahal, tanpa fondasi pengetahuan yang kuat, dakwah hanya bergerak dalam lingkaran lama: pengajian, seruan moral, dan agenda rutin yang tidak menjawab persoalan besar umat seperti kesenjangan digital, daya saing pendidikan, dan literasi teknologi digital. Ketertinggalan umat di bidang teknologi informasi misalnya, bukan kecelakaan sejarah, melainkan akibat absennya investasi organisasi dalam membangun intelektual kelas menengah Muslim.
Momentum 2025 melalui PARMUSI 4.0 seharusnya menjadi koreksi total. Transformasi digital bukan hanya memasang spanduk atau membuat kanal YouTube, melainkan membangun arah baru organisasi: dari dakwah emosional menuju dakwah ilmiah. Dari orasi ke analisis. Dari obrolan ke riset.
Di sinilah pentingnya menghadirkan Majelis Pakar atau Majelis Kajian Strategis dan Kebijakan sebagai pusat produksi pengetahuan Parmusi. Majelis ini harus menjadi otak organisasi—mengolah data, menganalisis realitas sosial, merumuskan kebijakan, dan menyiapkan kader dengan kapasitas berpikir strategis. Jika Majelis Pakar hanya dijadikan formalitas, maka Parmusi akan jatuh pada pola lama: banyak struktur, sedikit kinerja intelektual.
Tahun 2025 menjadi titik balik. Di bawah bendera PARMUSI 4.0, organisasi ini ingin melompat dari dakwah tradisional menuju dakwah ilmiah berbasis data, riset, dan teknologi informnasi. Paradigmanya jelas: mengintegrasikan ayat-ayat wahyu dengan sains modern, lalu menjadikannya energi kebangkitan umat. Di sinilah urgensi membangun Majelis Pakar atau Majelis Kajian Strategis dan Kebijakan yang hadir hingga struktur paling bawah. Bukan sekadar forum, tetapi dapur intelektual yang menyiapkan peta jalan kemajuan umat.
Majelis Pakar inilah yang kelak memoles kader Parmusi menjadi generasi Ulul Albab: saleh secara spiritual, kuat secara sosial, dan unggul secara profesional. Mereka bukan hanya penyampai dakwah, tetapi penggerak perubahan di sektor pendidikan, teknologi, ekonomi, hingga kebijakan publik. Parmusi pun dituntut bertransformasi menjadi organisasi kader dakwah modern yang bertumpu pada nalar, bukan sekadar mengandalkan energi moral.
Ruang dakwah kini bukan lagi podium masjid atau aula pertemuan. Medan utamanya adalah layar ponsel—TikTok, YouTube, Instagram. Jangkauan dan resonansi lebih penting dari jumlah kursi dalam forum fisik. Karena itu, digitalisasi harus bergerak serentak dari pusat hingga desa, memanfaatkan AI, big data, dan ekosistem digital lainnya untuk menyapa umat yang kian melek teknologi, terutama kaum milenial dan generasi Z.
Transformasi ini bukan sekadar program, tetapi lompatan budaya. Parmusi harus melahirkan kreator dakwah, peneliti kebijakan, analis isu keumatan, dan intelektual profesional yang mampu bicara dalam bahasa zaman: cepat, akurat, dan berbasis data. Tanpa itu, Parmusi akan tertinggal dalam perebutan pengaruh di ruang digital.
Tantangan terbesar Parmusi hari ini bukan kurangnya kegiatan dakwah, tetapi ketertinggalan dalam pertarungan narasi di ruang digital. Medan dakwah telah bergeser ke layar ponsel, di mana algoritma, big data, dan kecerdasan buatan menentukan siapa yang berpengaruh dan siapa yang hilang dari radar umat. Jika Parmusi tidak masuk secara sistematis ke ruang digital, organisasi ini akan menjadi penonton dalam perebutan pengaruh ideologis dan keilmuan di kalangan generasi muda.
Parmusi perlu meninggalkan mentalitas dakwah konvensional yang menunggu massa datang. Era 4.0 menuntut organisasi menjemput umat, memahami tren, dan menguasai teknologi. Tanpa itu, jargon “Connecting Muslim” hanya akan menjadi slogan manis yang tidak berakar pada strategi nyata.
Namun bila transformasi ini dijalankan secara disiplin—dengan kaderisasi intelektual, produksi konten bermutu, riset sosial-politik, dan digitalisasi terintegrasi—Parmusi berpeluang besar tampil sebagai lokomotif intelektual Muslim digital. Bukan sekadar lembaga dakwah, tapi pusat pemikiran yang diperhitungkan publik; bukan hanya penggerak kegiatan, tapi penghasil solusi keumatan.
Inilah saatnya Parmusi berhenti menjadi organisasi yang sibuk, dan mulai menjadi organisasi yang strategis. Zaman telah berubah. Umat membutuhkan pemimpin yang bukan hanya saleh, tetapi juga cerdas, visioner, dan melek teknologi. Dan Parmusi 4.0 hanya akan bermakna jika berani melakukan lompatan itu.| Penulis Ketua PW Parmusi Sumatera Utara




The Cricbet999login process was pretty smooth. Straight to the point and I appreciate that. See what all the fuss is about cricbet999login.
Need a quick log-in and some betting action? cw777login’s the place. No fuss, just straight to business. That’s what I’m talking about! cw777login
SV88us… not gonna lie, it’s got some decent betting options. Worth a peek if you’re shopping around for something new. Just sayin’. sv88us